life is tough, so calm down….

cuma dan hanya menyalurkan hobi gw ^_^

Investasi Ilmu

Bunda Eka Maisyarah bercerita tentang investasi ilmu untuk anak-anaknya..
===========================

Punya buku ini 8 tahun yg lalu, saat IBF 2008, lewat bunda Kurnia Widhiatuti. Beli langsung paket optimum senilai 9,750,000. Dulu sih paket ini seharga motor bebek. Hmmm..bukan harga yg murah ya?

Paket buku dikirim berbarengan dg mertua berkunjung ke rumah. Jadilah mertua takjub dg kumpulan kardus-kardus yg baru datang itu. Jelas, beliau bertanya itu apa dan berapa harganya. Dengan malu-malu bilang ini buku, senilai hampir 10 juta. Terbayang ekspresi kaget mertua saat itu.. Apa? Buku? 10 juta?? Uang sebanyak itu bisa beli TV baru yg besar, mesin cuci, 1 set sofa bahkan bisa utk ganti motor. Alasan bisa dicicil tdk membuat alasan bisa diterima, toh perabotan tadi juga bisa dicicil. Akhirnya cuma pasrah, sambil berdoa semoga beliau ikhlas menantunya begini…

5 tahun kemudian.. 2 bulan menjelang beliau wafat, saat kami kumpul keluarga beliau berkata, “Dari semua cucu mama yg 11 org..memang yah anak-anak abang dan Eka yg beda. Shalatnya pada rajin, kecil-kecil udah pada puasa, kalau nanya bikin neneknya bingung jawabnya..”
Aku dan suami berpandangan, inilah golden moment..

“Alhamdulillah.. Mama seneng yah lihat cucunya begitu?”

“Iyalah..seneng banget..sikapnya pada baik..pinter-pinter..”

“Eka, mau minta maaf ya ma..” Kataku terisak

“Lho kok malah minta maaf..mama malah seneng..”; Suaranya pun ikut terharu

“Mungkin mama ingat, waktu Zaidan masih bayi.. Eka investasi senilai 10 juta”

“Investasi apa 10 juta?” Mertuaku kaget.

“Yaah..Eka beli buku senilai hampir 10 juta. Bukunya datang waktu mama ada di rumah.”

“Ooh..yg dulu. Iya sayang uang segitu buat beli buku doang.”

“Bukan beli buku ma, tapi investasi..” Ralat suamiku.

“Sekarang investasinya sdh berbuah, cucu mama bisa kayak sekarang..”tambah suamiku

Kutatap wajah mama mertua, matanya mulai berkaca-kaca. “Barang-barang yg mama sebut dulu sekarang sdh kita miliki, tetapi usia emas balita anak-anak tdk bisa diulang. Kalau dulu dibalik, beli barang dulu, beli buku kemudian mungkin gak seperti sekarang hasilnya. Maafkan kami ya ma, kalau mama tdk sependapat dg kami dulu, tapi mama tdk sampaikan kpd kami ketdksukaan itu.” tangisku meledak. Kupeluk tubuh yg terbaring sakit itu.

Mertua menangis, memelukku erat. “;Nggak sayang..Eka nggak salah. Mama yg salah. Apa yg abang sama Eka lakukan itu ternyata benar. Semoga cucu-cucu mama kelak mendoakan mama juga.”

Rasanya hari itu sebuah beban berat terangkat sudah. Pemaafan dr org tua, lega apa yg dilakukan diridhoi beliau. Semoga Allah melapangkan dan menerangi alam kubur mama, memberikan tempat terindah di sisi-Nya.

Berani berbeda dr kebanyakan org, tdk beli barang-barang dulu, tapi beli buku-buku. Berani diomelin mertua juga orgtua yg pusing lihat kardus-kardus berserakan. Apalagi kalau isinya diberantakin krucil yg masih balita semua. Maklum belum punya lemari. Anti mainstream, dipandang aneh? Sudah biasa.

Tapi, bertahun kemudian, saat yg lain berteriak anaknya kecanduan games, TV dan gadget, Alhamdulillah anak-anak kecanduan buku. Bukan hal mudah, bertahun-tahun menahan rasa keterasingan, memupuk cinta buku pada balita yg senangnya aktif bergerak. Bisa, pasti bisa! Satu kuncinya, jangan pernah menyerah!

Testimoni: Bunda Eka, Depok

View on Path

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: