life is tough, so calm down….

cuma dan hanya menyalurkan hobi gw ^_^

Aku dan Mute

Cerita MuTe di sebuah Sekolah Dasar Negeri 1 Candimulyo.

Haru, haru sekali mendengar kisah yang di bawakan oleh seorang sahabat tentang kepedulian. Kadang rasa kepedulian itu sulit kita temukan di tengah-tengah masyarakat pada saat ini. Sedikit yang peduli namun dari yg sedikit biasanya akan menghasilkan kualitas yang baik. Bukankah sahabat Rasulullah awalnya sedikit, lalu lahirlah kehebatan pada diri sahabat seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, Khalid bin Walid semua karena tarbiyah dg jumlah sedikit namun mengutamakan kualitas keimanan yg tinggi. Berharap, semoga dari yang sedikit kelak akan membuahkan hasil, anak-anak dengan keimanan yang tangguh, keimanan yang menghujam. Aamiin

Berawal dari pemikiran seorang guru yang melihat dari sisi yang berbeda, ada hal yang belum seimbang dari pembagian jam mata pelajaran. Jam mapel eksak lebih sering daripada mapel Pendidikan Agama Islam yang hanya 2 jam dari satu pekan. Jumlah jam yang tak seimbang untuk mereka mengenal lebih dalam agamanya.

Bisa kita bayangkan bila seorang yang mengaku muslim namun tak mengenal agamanya dengan mendalam. Tapi apa pentingnya kita mengenal agama Islam ini secara mendalam? Apa untungnya buat kita? Sekali lagi mari kita berpikir untuk kebaikan di masa yang akan datang. Masa anak-anak kita akan membawa tongkat estafet membangun peradaban Islam.

Dari manakah mereka mengenal kejayaan Islam bila tak belajar dari pelaku sejarahnya, Islam hadir di tengah kejahiliyahan jaman, Islam bersinar di kala kedzaliman, kecurangan dan ketidak adilan merebak di semua penjuru. Dari manakah mereka belajar tentang kemulian Islam bila tak belajar dari kekasih yang Allah cintai, ditawari harta melimpah serta kehidupan yang abadi, beliau memilih menjadi hamba Allah yang menghadapi sakaratul maut, memilih hidup dengan kesederhanaan namun tak kikir dalam bersedekah. Bila bukan ketinggian akhlaqnya Rasulullah akan memilih Dunia. Namun seorang yang cerdas tak tersilaukan dengan gemerlap dunia. Maka bisa kita tegaskan, pentingnya belajar akhlaq dari Rasulullah. Bagaimana anak-anak belajar menjadi tangguh, bila mereka tak pernah kenal dengan sosok anak yatim piatu namun memberikan mahar yang besar untuk seorang wanita terkaya di Mekkah? Bagaimana anak-anak mengenal sosok yang cinta keluarga sebagai ayah, sebagai pemimpin yang dicintai oleh rakyatnya, yang dirindukan setelah kematiannya, yang dibela oleh rakyatnya. Dari mana mereka belajar banyak hal tentang Islam bila tak kita kenalkan dengan sosok Rasulullah Shalallahu’alaihiwasallam.

Maka Allah gerakkan hati seorang guru di sebuah SDN di sebuah kota di Jawa Tengah. Guru tersebut berazzam menanam cinta Rasulullah agar terpatri di hati anak-anak didiknya. Melalui langkah sederhana dari cara pikirnya yang menggambarkan kecintaan pada sosok Rasulullah, membacakan kisah dari setiap lembar buku Muhammad Teladanku.

Semoga usaha yang dilakukan oleh seorang guru SDN 1 Candimulya di sebuah kota kecil di Jawa Tengah akan di tiru oleh guru-guru seperti kita, membacakan kisah melalui buku berjudul Muhammad Teladanku. Bukankah seorang ibu juga guru bagi anak-anaknya ketika di rumah.

Selamat berjuang wahai para guru, mari bersama mendidik anak-anak kita untuk satu harapan, meraih masa yang gemilang dengan ketinggian akhlaq serta kecerdasan yang seimbang, menjadi hamba Allah yang di Rahmati Allah

** tim SNC **

View on Path

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: