life is tough, so calm down….

cuma dan hanya menyalurkan hobi gw ^_^

Catatan Sekolahnya Orang Tua – PSPA Part II (Mba Liez)

PART II.. Tulisan dari mba Dewi Liez, sebagai pengingat dan tersimpan rapih disini

2. BELAJAR

Pelajaran terbesar didapat anak dari keluarganya. Kebaikan (positif) atau keburukan (negative). Anak sampai usia 18tahun, lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Artinya:

  1. 86% mereka habiskan waktu di rumah,
  2. 14% sisanya disekolah & lingkungan.

Berkaca dari hal di atas, cobalah kita tengok. Anak senang saat berada di mana? Di rumah atau di luar rumah? (sekolah dan lingkungan). Jika anak-anak lebih nyaman berada di sekolah, ada apa dengan rumahnya? Jika anak lebih betah berada di lingkungannya (di luar rumah). Artinya ada hal yang membuatnya tidak nyaman berlama-lama di rumah.

Tahukah, Ayah Ibu, bahwa sebenarnya waktu terbanyak mereka habiskan di rumah saat usia Setelah itu secara de facto. Mereka bukan lagi anak-anak yang bisa dengan bebas kita intervensi. Intervensi orangtua terhadap anak bisa dilakukan seperti berikut:

  • Usia anak < 12 tahun (s/d kelas 6 SD): 100%
  • Usia anak 12 – 15 tahun (kelas 7-9): 60%, mulai ada pengaruh lingkungan. Anak mulai punya hak privacy. Remaja tak mau selalu ditempel orangtuanya.
  • Usia anak 15 – 18 tahun (SMU): 40%, makin besar lagi pengaruh luar terhadap anak.
  • Usia anak 18 – 23 tahun (kuliah): 0%,sangat kecil, bahkan tidakada intervensi kepada anak jika anak kuliahnya ngekost.

Saat anak menikah, tidak ada lagi intervensi orangtua terhadap anak. Karena keluarga anaklah yang lebih berhak (istri dan anak-anaknya). Semua anak, banyak belajar dari rumah. Salah satunya banyak bertanya pada ayah ibu.

Simak kejadian berikut:

Satu saat Ibu sedang memasak di dapur. Niatnya mau masak sayur asam. Anak kita usia balita datang menghampiri.

“Mama lagi ngapain?” tanya si anak.

“Mama lagi masak, Nak.”

“Mama masak apa?”

“Masak sayur asem, Nak.”

“Kok namanya sayur asem?”

“Iya karena rasanya asam.”

“Kenapa bisa asam?”

“Karena pakai buah asam,” jawab Mama sambil menunjukkan buah asam kepada anaknya.

“Isi sayurnya apa aja, Ma?”

“Ada jagung, melinjo, dau melinjo, labu, kacang tanah,”

“Melinjo itu kayak apa?”

“Kayak ini.” Mama menunjukkan buah melinjo yang berwarna hijau dan merah.

“Kenapa warnanya beda-beda?”

“Kalau masih muda warnanya hijau, sudah tua warnanya merah.”

“Pakai bumbu apa?”

“Bawang, lengkuas, ..”

“Lengkuas seperti apa?”

“Seperti ini,”

“Rasanya seperti apa?”

“Udah ah, tanya-tanya terus. Sana main aja di luar. Mama lagi masak nggak beres-beres, nih.”  Mama mulai nggak sabar.

Hati-hatii… saat inilah, orangtua menghentikan gairah anak untuk belajar. Padahal, umumnya setiap anak pasti kritis. Setiap anak bertanya artinya dia penasaran. Curious, rasa ingin tahunya tinggi. Ini harus dipenuhi. Berapa banyak orangtua yang tahan terhadap pertanyaan anak. Yup, sedikit sekali. Kebanyakan dari kita nggak sabaran menjawab pertanyaan anak. Sejatinya, anak juga anak capek, kok. Buktikan!

Abah Ihsan bercerita, bahwa anaknya pernah bertanya nama hari.

“Abah, sekarang hari apa?”

“Senin.”

Kemudian bertanya lagi, “Sudah senin?”

“Selasa.”

“Sudah selasa?”

“Rabu.”

“Sudah Rabu?”

“Kamis.”

“Sudah Kamis?”

“Jum’at.”

“Sudah Jum’at?”

“Sabtu.”

“Sudah Sabtu?”

“Minggu.”

“Sudah Minggu?”

“Senin.”

“Sudah senin?”

“Selasa.”

“Sudah selasa?”

Begitu terus anaknya bertanya berulang-ulang. Berputar-putar menanyakan hal yang sama.

Fungsinya adalah, dengan mengulang pertanyaan, semakin kuat tertanam di otak bawah sadar anak.

Pertanyaan berlanjut, Abah terus meladeni. Sampai akhirnya si anak berhenti sendiri.

Lalu Abah tanya, ”Kenapa berhenti?”

“Capek ah, Bah.”

Mau tahu berapa putaran? Cukup tiga putaran, si anak sudah capek. Nah, kan? Anak juga ada capeknya. Tinggal kuat-kuatan aja sama Ayah Ibunya. Azamkan di hati, “Demi Allah. Saya akan jawab pertanyaanmu, Nak. Kita lihat siapa yang duluan berhenti. Masa saya kalah sama anak kecil, tak sudi.” Berani mencoba? Yuuk. Eh, tapi ada yg protes nih. “Saya kan capek, pulang kerja diberondong dengan pertanyaan anak yang tak ada habisnya.” Oke, boleh menunda menjawab pertanyaan anak. Begini,caranya:

“Anak Ibu pengen tahu ya? Boleeh. Tapi tidak sekarang. Ibulagi capek. Satu jam lagi ya..” (untuk waktu silakan tentukan sendiri)

Insya Allah kalau anak-anak disampaikan dengan cara yang baik, lembut, mereka akan mengerti. Kita ingat-ingat lagi, saat anak balita belajar jalan. Walau jatuh berpuluh-puluh kali, dia akan bangun lagi untuk belajar jalan sampai bisa. Bahkan kalau sudah bisa jalan, coba deh ingat. Anak-anak nggak pernah tuh,jalannya pelan. Pasti ngebut (lari). Belajar bukan hanya menulis, mewarnai, dan sejenisnya. Bagi balita, numpahin air ke lantai itu belajar. Main pasir, itu belajar. Becek-becekan dan main hujan, itu belajar. Ngemut sandal, itu belajar. Tapi kalau gigit sandal kotor dan belok jangan dibiarin ya, ganti sandal dengan teether yang bersih. Biar bisa belajar gigit-gigit dan fase oral dengan aman. Lompat-lompatan, belajar. Main petak umpet, belajar.

Kapan dan di mana anak belajar? Kapan saja, di mana saja. Anak-anak selalu belajar. Bukan hanya di sekolah, bukan hanya di tempat les. Saat bermain mereka sedang belajar. Bukan belajar sambil bermain. Tapi memang bermain adalah sebenar-benarnya belajar. Sekalipun mereka ujung-ujungnya nangis karena berantem dengan temannya. Iya, beneran. Saat anak berantem (misal berebut mainan), saat itu anak sedang belajar bersosialisasi. Jika anak kita nggak mau ngalah, pengen menang sendiri, nantinya nggak ada teman mau bermain dengan anak kita. Besok-besok,anak kita mulai menurunkan egonya. Daripada main sendiri, nggak asyik kan?mainlah dia dengan teman-temannya lagi. Berusaha menurunkan ego, nggak apa nggak menang terus. Yang penting bisa main bareng. Setiap anak sejatinya MAU BELAJAR, asal metodenya tepat.

Trus, apa yang harus kita lakukan?  Sejak saat ini tanamkan software kebaikan dalam diri anak.

Yuk, kerjakan PR 2

Insya Allah mulai hari ini saya bersungguh-sungguh tidak meninggalkan anak setiap hari jika saya di RUMAH setidaknya pada 4 waktu,yaitu:

  1. BANGUN TIDUR
  2. SHOLAT
  3. MAKAN
  4. MAU TIDUR

Kita bahas satu-satu kenapa orangtua harus ada setidaknya di 4 waktu tersebut.

1. Bangun Tidur

Saat anak tidur, gelombang otaknya ada padaposisi delta. Sebelum bangun, akan terjadi perpindahan gelombang. Dari delta ke theta dan seterusnya sampai anak benar-benar bangun dan siap beraktifitas. Gunakan momen ini untuk menanamkan kebaikan.

Membangunkan anak dari tidur hendaklah dengan lembut. Bisa dengan mengitik-ngitik kakinya. Bisa dengan dongeng, bisa dengan apapun hal yang sangat disukai anak. Begitu anak membuka matanya, yang dilihat adalah wajah ayah/ibunya. Bacakan doa bangun tidur, meski matanya masih kriyep-kriyep. Beri motivasi positif kepada anak. “Anak hebat, bangunnya pagi.”Atau “Anak hebat, Subuhnya rajin”, dan seterusnya.

Atau dengan hal lainnya. Yang pasti Ayah/ibu lebih faham kesukaan anak-anaknya.

Ifa (8thn), paling senang dibangunkan dengan boneka kucingnya. “Miaw..miaw, kakak bangun yuuk. Aku mau main sama kakak. Kita sholat subuh bareng yuuk. Miaw, miaw,” sambil si boneka kucing ngusek-ngusek pipi Ifa. Nggak pake lama. Mata Ifa terbuka pelan, senyum mengembang meski masih bau acai. Tapi dia beneran melek, mau beranjak dari tidurnya dan meninggalkan guling apeknya.

Rif’an (6thn) beda lagi. Bangunin dia nggak mempan pakai boneka kucing. Kedua tangan saya selipkan di bawah badan Rif’an. “Ada excavator mau angkut batu besar, buat bangun jalan, Dek.” Kedua tangan saya langsung bergerak seolah-oleh jadi bucket excavator. Sambil membaca doa bangun tidur di telinga Rif’an. Enggak lama, matanya riyep-riyep. Liat emaknya udah heboh jadi excavator. Sudah mulai cengar-cengir. Lanjut membopong Rif’an kedepan kamar mandi.

Kalau Ayah Ibu yang lain, bagaimana? Pasti beda-beda ya.. cara membangunkan anak di pagi hari. Jika mereka bangun dengan hati yang riang,senang, maka akan Happy juga untuk melakukan hal selanjutnya.

2. SHOLAT

Usahakan (wajib) ada disamping anak saat sholat. Misal; subuh, ajak anak-anak bangun pagi, sholat subuh bareng. Jika ayah ibu kerja, moment pagi ini pastikan jangan terlewat. Karena ini akan terbawa sepanjang hari dia beraktifitas. Jika paginya baik, maka akan baik juga sampai nanti dia tidur lagi. Tapi, kalau pas ibu udzur gimana dong? Nggak bisa kan, sholat bareng anak-anak. Ih, siapa bilang nggak bisa di samping anak pas sholat. Ibu yang sedang haid, bisa tetap menemami anak-anaknya yang sholat. Duduk manis saja di samping atau belakang anak. Dari mereka takbir sampai salam. Peluk, cium saat mereka selesai sholat. Pelukan itu membuat anak nyaman. Jangan pelit meluk anak, yaa. (khususnya anak-anak yang masih kecil)

3. MAKAN

Makan bersama anak juga agenda wajib.Jangan makan sambil nonton televisi. JANGAN! Karena kegiatan yang dilakukan sambilan efeknya tidak baik. Anak jadi tidak konsen makan, tapi konsen ke tivi.Makan jadi lamaa. Dsb, dst.

Waktu makan boleh bicara. Asal, jangan sampai pas mulut penuh trus ngomong, bisa keselek atuuh. Saat makan, lakukan komunikasi pada anak-anak. Pan lumayan tuh, waktu makan biasanya berapa menit? Bisa jadi ajang tukar info ringan dengan anak-anak. Yang tidak boleh itu, makan dengan bersuara ngeclap (apa ya istilahnya, kalau ngunyah makanan bunyi gitu)

4. MAU TIDUR

Menjelang tidur, gelombang otak anak-anak berada dalam kondisi teta (tenang). Saat inilah terbaik diisi dengan cerita,sugesti positif dan kisah-kisah kebaikan dari 20 sahabat, 25 nabi dan Rasul,kisah Rasulullah. Dan banyak lagi cerita kebaikan yang bisa kita tanamkan sebagai software dalam otak anak-anak. Wajibkan untuk cerita kepada anakminimal 1kali sehari. MINIMAL 1 kali/hari. Paling baik saat anak-anak menjelang tidur.  Cerita yang kita sampaikan akan tertanam dengan baik di otak sadar, kemudian jika rutin dilakukan, maka akan tersimpan di otak bawah sadar. Tentunya sebagai orangtua, kita ingin menanamkan banyaak kebaikan.

So, tunggu apalagi? Lakukan sekarang juga. Tanam software kebaikan kepada anak kita. SEKARANG, bukan nanti, bukan besok. Mulai ntar malampraktek yaa. Cerita ke anak-anak sebelum mereka tidur. Jangan kita duluan yangpules, sementara anak-anak masih lulumpatan.

Bisa juga senandungkan sholawat saat selesai bercerita. Tambahkan sugesti positif di sela sholawat. Anak-anak akan selalu terkenang moment indah mereka sebelum tidur.

Selamat mengerjakan PR kedua, sedikitnya 4WAKTU yang wajib ada orangtua. Jika lebih dari 4 waktu itu bagaimana? Yaa…lebih baik lagi atuuuh.

 

3. KARUNIA FITRAH

Anak itu FITRAH, SUCI. Maka mereka anak-anak kita pastimempunyai sifat berikut:

  1. Jujur
  2. Patuh
  3. Belajar
  4. Pintar
  5. Kreatif
  6. Mandiri

Penjelasannya sebagai berikut:

1. JUJUR

Semua anak itu Jujur. Asli, beneran. pernah liat anak kecil pas diajak jalan ke Mall. Lihat orang yang orang yang punya tanda lahir di wajahnya, pasti si anakakan tanya,”Om, kenapa itu mukanya ada item-item gede?” Atau apapun yang mereka lihat, pasti dengan jujur juga dia ucapkan. Tanpa rekayasa. Anak berbohong, bisa jadi saat anak jujur, malah dapat musibah. Contoh:

Anak menjatuhkan gelas ke lantai. Ibukarena tidak melihat kejadian bertanya kepada si anak, “Siapa yang menjatuhkan gelas?”

“Aku, bu.”

Selanjutnya, si Ibu akan  ngomel panjang kali lebar kali tinggi. Walautangannya sambil ambil lap dan membersihkan pecahan gelas. Tapi, si anak akanmenyimpan kejadian ini.

“Aku jujur, aku diomelin.” Jadi… mending next, aku bohong aja.

Tuh… kan, yang bikin akan nggak jujur si Ibu juga.

Anak udah jujur, hargai atuuh kejujurannya.

“terima kasih sudah jujur. Sekarang ambil lap yuk, kita bersihkan tumpahan airnya.”

Atau kejadian lain.

Misal di dalam kamar ber AC, terdengar suara “Tuuut.” Selanjutnya tercium aroma tidak enak memenuhi ruangan.

“Siapa yang buang angin?” tanya Ibu/Ayah. “Ya, ampuuun. Nggak sopan tahu, bau, bikinmau pingsan aja” (hehehe lebay banget dah).

Mulai saat itu, si anak ogah ngaku kalo dia hitut. Bisa berimbas ke hal lainnya. “Gue jujur, gue bakal apes dimarahin,diomelin, dst,dsb,”

Boleh saja, kita mengatakan kalau buang angin di depan orang kurang baik. Karena ada yang terganggu. Tapi dengan cara yang baik pula.

 2. PATUH

sejatinya anak itu patuh, tapi dia melihat contoh orangtuanya yang tidakmematuhi aturan main yang ada. Atau tidak konsisten menetukan batasan. (nanti ada bahasan selanjutnya) Contoh:

ngajak anak naik motor nggak pakai helm atauuu si anak lagi batuk dan sensitive dengan permen.

Eh…, pas ada tamu. Biar anaknya anteng nggak ganggu rumpian emaknya,maka si anak dibolehkan makan permen.

Anak itu mencatat loh. Dan pengingat ulung. Dia pasti mikir, “Tadi pagi nggak boleh, kok sekarang boleh?” artinya, “aku nggak perlu patuh sama Mama, karena berubah-ubah.”

3. BELAJAR

semua Anak mau BELAJAR. Asal metodenya tepat dan menyenangkan. (sudah di bahas di atas) Jangan larang anak main. Karena bagi anak, MAIN adalah sesungguh-sungguhnya belajar. Dengan bermain mereka menstimulasi kehidupan. Tidak hanya dari segi kognitif, tapi semua. Sosial, fisik, kerjasama, dll.

4. PINTAR

setiap anak adalah PINTAR. Enggak ada anak bodoh. Yang ada, anak introvert dan extrovert.Yuk kita lihat kelebihan mereka.

Intovert :

Hati-hati, pengamat ulung, nilai akademisnya rata-rata bagus, tapi begitupelajaran olahraga dia paling kewalahan.

Ekstrovert:

Jago dalam komunikasi, fisiknya kuat karena nggak bisa duduk diam,motorik kasarnya hebat (nilai olahraga paling tinggi), seringkali tersiksadengan metode belajar yang banyak duduk manis.

Selain dua hal itu, semua anak di dunia ini PINTAR. Coba deh, lihat anakkecil main games di gadget. Walau nggak ngerti bahasa inggris tapi dia bisamemainkan dengan baik. Padahal ngerti bahasanya saja tidak. Jadi, tidak ada anak yang terlahir bodoh. Semua anak pintaar. Orangtua saja yang tidak bisa melihat kelebihan anak.

5. KREATIF

setiap anak adalah KREATIF. Enggak ada anak yang kehabisan ide saat bermain. Coba deh perhatikan. Mainannya sama, lego. Tapi bisa kuat berlama-lama, bikin gedung, kapal, mobil2,trus nanti tabrakan, ada gempa gedungnya hancur, terus begitu nggak ada matinyaide anak-anak saat main. Padahal kita sebagai orangtua nggak pernah kan,nyuruh, “Bikin pesawatnya begini aja dek, trus nanti jadi banjir, trus begini, begitu.” Nggak pernah kan? Anak-anak punya ide yang tak pernah habis. Saat di kamar mandi. Mulai main gelembung, siram-siram air ala fireman, sampai berendam seakan-akan berenang di kolam renang besar.

Yang MEMATIKAN KREATIFITAS anak-anak, umumnya adalah orangtua. Contoh:

anak banyak bicara,komunikasi verbalnya sangat baik. Tapi orangtua malah menganggapnya cerewet,bawel, banyak ngomong, dan label negative lainnya. Sejak saat itu kretifitas anak MATI. Saat anak menunjukkan kelebihan, ketertarikan, idenya dalam bidangapapun, kemudian orangtua bukan memotivasi tapi melemahkan, meremehkan, makasejak saat itu kreatifitas anak-anak MATI.

 6. MANDIRI

setiap anak, pada masanya Secara fitrah punya sifat MANDIRI. Orangtua yang sering menyebabkan anak jadi tidak mandiri.

Contoh:

Ani, anak TK-B, sudah terbiasa pakai sepatu sendiri.

Tapi hari itu, Ayah dan Ibu kesiangan. Jemputan sekolah sudah membunyikanklakson di depan pagar rumah. Si anak yang sedang berusaha menggunakan sepatu sendiri, tiba-tiba dikagetkan suara Ibu.

“Cepatan pakai sepatunya! Itu jemputan udah nungguin. Kamu lelet banget sih. Sini, Mama pakaikan.”

Akhirnya si Ibu mengambil alih memakaikan sepatu Ani, sambil terus ngomel. “Pakai sepatu sendiri nggak bisa.”

Ani, merekam. “Aku nggak bisa pakai sepatu sendiri.”

Atau….

Aulia anak kelas 2 SD anak akan pergi ke TPA, sedang asyik memilih bajuyang akan dipakai. Tiba-tiba Ibu mengingatkan dia.

“Lama amat milih bajunya. Udah ambil yang mana saja.”

Pilihan jatuh pada, kaus lengan panjang warna pink, celana panjang warna biru dan jilbab kaus polkadot warna hijau.

Melihat pilihan Aulia, Ibunya komentar lagi,”Masa kaus pink, celana biru,jilbab hijau. Jangan tabrak-tabrak gitu dong warnanya.”

Si Ibu mengambil celana panjang dan jilbab dengan warna yang senada dengan pink.

Saat itu Aulia merekam, “Pilihanku tidak bagus. Pilihan Ibu yang bagus.”

Yuhuuu, apa yang sudah ibu lakukan?

Yup, mulai saat itu. Ibu sudah kemandirian anak ibu sudah MATI. Si anak akan berfikir, bahwa dirinya tidak bisa mandiri. Pilihannya tidak baik, tidak benar, tidak bagus. Dst.

 

PR 3

Insya Allah mulai hari ini saya bersungguh-sungguh membebaskan hidup anak demi kebahagiaan mereka, sepanjang tidak berlebihan. Yaitu:

  1. Tidak membahayakan dirinya
  2. Tidak merugikan orang lain
  3. Tidak melanggar hukum agama dan negara

 

sumber:
PSPA 31 Jan-1 Feb 2015
Yuk Jadi orangtua Sholeh
Sudahkah jadi orangtua Sholeh
Renungan Dahsyat untuk orangtua

Single Post Navigation

One thought on “Catatan Sekolahnya Orang Tua – PSPA Part II (Mba Liez)

  1. Part 1 nya gk ada ya mb?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: